Tentang 25 Tahun Cemeti

Turning Targets – 25 Tahun Cemeti

Pengantar

Pada 31 Januari 2013 Rumah Seni Cemeti genap berusia 25 tahun. Apa yang telah dirintis dari tahun 1988 sebagai sebuah inisiatif untuk membangun alternatif infrastruktur aktivitas seni rupa, telah bertumbuh menjadi sebuah sumber inspirasi budaya khususnya seni rupa. Hingga menjelang 25 tahun keberadaannya kini, Rumah Seni Cemeti terus berperan penting pada perkembangan seni rupa kontemporer di Indonesia. Ratusan seniman-seniman penting beserta puluhan pekerja-pekerja seni terkemuka di tingkat kawasan maupun internasional bisa dilacak kembali rekam jejak karier etik dan estetik kesenian mereka dari Rumah Seni Cemeti.

Peringatan 25 tahun Cemeti pada 31 Januari 2012 adalah sebuah momen, peluang untuk melakukan analisa-analisa korektif reflektif atas pasang surutnya kondisi seni rupa kontemporer di Indonesia. Nilai momen reflektif dan korektif itu tidak saja setara dengan perak, namun akan sebanding dengan klaim-klaim reflektif Cemeti sebagai ruang pameran alternatif, laboratorium pasokan wacana budaya, inspirasi pendidikan dan pelatihan manajemen seni rupa, simpul awal bagi jaringan senirupa nasional dan internasional.

Kondisi kesenian yang kondusif ditengarai dengan pasangnya aktivitas penciptaan, produksi, promosi, kemunculan wacana, distribusi hingga sampai pada apresiasi dan pencerapan produk-produk artistiknya. Refleksi ini merupakan momen dalam 25 tahun Cemeti ini ketika kita akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan penting tentang seni rupa kontemporer di Indonesia. Wacana kritis seperti ini, yang kadangkali terbungkam dengan semakin menurunnya diskusi dan tanya jawab tentang seni kontemporer Indonesia, musti direvitalisasi dan dibebaskan, untuk menghindari stagnasi dan kehancuran budaya!

Tidak keliru bahwa masyarakat pemangku kepentingan seni rupa bangga atas puluhan kenyataan tentang banyaknya seniman kita yang bekerja keras melipatgandakan produksi. Namun, apakah karya-karya mereka mampu memainkan peranan yang relevan dalam kehidupan sosial kultural masyarakat kita?

Meskipun kebebasan ekonomi dan kebebasan berekspresi merupakan dua ruang eksplorasi yang sama sekali terpisah di dalam kehidupan sosial budaya, namun keduanya kadangkala berjalan berdampingan, bahkan dipertautkan secara tidak tepat dalam hubungan sebab akibat.

Jelas bahwa keanekaragaman ekspresi artistik tidak selalu tumbuh subur di setiap keadaan masyarakatnya, termasuk dalam masyarakat yang diasumsikan telah terbebaskan secara ekonomi.

Kekuatan pasar adalah mercusuar kesejahteraan para seniman, namun kapitalisme pasar juga mengandung tuntutan-tuntutan oligopolistik. Jika demikian, apakah masih tersedia ruang yang memadai guna pengembangan hak-hak artistik yang demokratis?

Momen 25 tahun Cemeti ini menandai waktu untuk refleksi yang akan menimbulkan pertanyaan penting mengenai kondisi seni kontemporer di Indonesia, yang pada saat ini sedang mengalami pasang surut dalam aliran wacana. Pada saat yang sama, ini adalah titik balik yang menandai awal refleksi dari kerja keras yang perlu dilakukan untuk mengarahkan energi kita dan mengidentifikasi isu-isu penting yang menjadi fokus pada beberapa program terdipilih dalam sepanjang tahun 2013 di Turning Targets – 25 years of Cemeti.

Turning Targets #1 – OneNightStand

2 Februari 2013,  16.00 – 24.00

‘OneNightStand’ adalah pesta perayaan dan proyek seni satu malam dimana para seniman dan praktisi seni diundang untuk berkontribusi ‘sesuatu’ pada satu malam secara simultan. Mereka membawa karya seni atau menciptakan karya seni untuk dipamerkan pada saat itu, seperti mural, performance, karya video, dan sebagainya.

Program ini khusus untuk tamu undangan.

Turning Targets #2 – Forum Kurator Muda

Forum kurator Muda ini akan diselenggarakan dengan kombinasi diskusi, dengan metode mentoring dengan fasilitator untuk merangsang kemunculan kurator muda di Indonesia. Peserta workshop akan membagi pengalamannya, dan pada saat yang sama, akan didorong untuk menyuarakan ide dan konsepnya.

9 Januari 2013 , 16.00 – 20.00, di LIP-IFI Yogyakarta

Diskusi panel tentang ‘praktik kuratorial’ dengan Enin Supriyanto, Agung Hujatnika, Sujud Dartanto dan Alia Swastika.

10, 11, 12 Januari 2013

Forum / Workshop dengan 17 peserta kurator muda terpilih dari Jakarta, Bandung dan Yogyakarta di Rumah Seni Cemeti.

5,6,7,8 Maret 2013

Forum / Workshop dengan 17 peserta yang sama di Rumah Seni Cemeti, presentasi proposal oleh masing-masing peserta.

September, November 2013

Dua kurator muda yang terseleksi akan merealisasikan proposal mereka dalam proyek pameran.

Program ini dilaksanakan berkolaborasi dengan Alia Swastika dan Yayasan Biennale Yogyakarta.

Turning Targets #3 – Realities, Cemeti Archived

15 Februari – 10 Maret 2013

Pembukaan: 15 Februari 2013, pukul 19.30

Pameran Arsip 25 Tahun Cemeti serangkaian dokumentasi dalam berbagai format (tulisan, foto, video, audio, kliping dan sebagainya) yang terseleksi. Pameran arsip ini mencoba menggali dan mempertanyakan kembali berbagai pengkaryaan, gagasan, strategi budaya dan pemikiran yang telah bermula di CAH. Ini juga termasuk menelusuri lagi rekam jejak dari karya-karya dan wacana setelah berproses dan tercipta di Cemeti, yang kemudian banyak dikembangkan lagi di luar CAH, baik di dalam mau pun di luar negeri. Dengan pameran arsip ini, diharapkan pelaku yang pernah terlibat mau pun generasi baru bisa mendapatkan pengetahuan dan refleksi akan seni rupa kontemporer sekarang di era Global Art saat ini, serta menetapkan strategi baru ke depan.

Program ini dikurasi oleh Farah Wardani dan Pitra Hutomo bersama dengan Indonesian Visual Art Archive (IVAA).

Turning Targets  #4 –  Mengoleksi Hujan / Collecting Rain

14 Maret – 5 April 2013

Pembukaan: 14 Maret 2013, pukul 19.30

Pameran ini menggelar koleksi Rumah Seni Cemeti yang untuk pertama kalinya dibuka kepada khalayak masyarakat luas; koleksi mini dari karya-karya yang sebagian besar adalah karya di atas kertas. Karya seniman ternama yang dipromosikan secara aktif melalui Rumah Seni Cemeti akan menjadi bagian dari koleksi ini. Program ini disusun sebagai wacana berlanjutnya gagasan gagasan kearsipan Cemeti, melengkapi dan membongkar sejarah berkesenian melalui pembacaan ulang karya-karya koleksi. Apakah hanya perekonomian yang pada akhirnya dipakai untuk mengukur dan menentukan kualitas dan nilai dari seni?

Program ini dikurasi oleh Nindityo Adipurnomo.

Turning Tragets  #5 – Proyek / Pameran ‘Dobrak !’

Bagian I: 7 Juli  – 20 Agustus 2013

Pembukaan:  7 Juli 2013,  19.30

Bagian II: Maret 2014

Dobrak! ingin mengadopsi penafsiran positif dari mendobrak, sebagai langkah penting dalam proses untuk pembaruan, untuk melangkah maju. Hal ini berlaku pada gagasan mematahkan—mematahkan tradisi, mematahkan persepsi prasangka, mematahkan stereotip atau menerobos batas-batas untuk memetakan wilayah-wilayah baru, identitas dan pembacaan baru.

‘Waktu dan Aksi’, yang terkait dengan ‘Ritual Temporer’ akan menjadi tema utama dalam proyek ini. Seniman didorong untuk mengangkat topik tertentu dan akan dipasangkan dengan antropolog, ahli cultural studies, sosiolog dan sejarawan dalam perjalanan “lapangan” untuk belajar, meneliti dan mengumpulkan informasi bersama kolaborator masing- masing mengenai pokok materi sebelum dimulainya penciptaan karya seni.

Proyek dan Pameran ini dikurasi oleh Adeline Ooi dan Mella Jaarsma.

Turning Targets #6 – Forum Manajemen Seni Rupa

21,22,23,24 Oktober 2013

Akan diundang 25 organisasi seni rupa dari Jawa dan Bali dan Forum Manajer ini akan diselenggarakan dengan kombinasi antara presentasi, workshop dan studi lapangan, berbagai topik manajemen, misalnya administrasi dan perpajakan, perencanaan pameran, presentasi karya, advokasi seni kepada publik, pengetahuan estetika dan kebudayaan lokal, strategi promosi dan publikasi, dokumentasi dan pengarsipan, serta jejaring lokal, regional dan internasional.

Forum Manajemen Seni Rupa ini akan menjadi ruang belajar bersama untuk mengembangkan profesionalitas para manajer dari organisasi seni rupa di Indonesia, baik dalam ranah konseptual maupun teknis.Mereka akan diberi kesempatan untuk memperluas pengetahuan mengenai keberagaman praktek manajemen organisasi seni rupa di Indonesia untuk memperkuat strategi, idealisme dan keberlanjutan organisasi atau komunitas.

Program ini dilaksanakan berkolaborasi dengan Kelola, Jakarta.

Turning targets  #7 – Pseudo Partisipative Project

Proses: Januari – Desember 2013

Pameran: 14 Desember 2013 – 11 Januari 2014

Pembukaan: 7 Desember 2013, pukul 19.30

Proyek ‘partisipatif’ ini adalah sebuah usaha untuk melacak dan mendesain ulang variasi dari proses-proses kreatif di dalam bidang seni. Proyek keterlibatan antargenerasi ini menyatukan berbagai seniman lintas-disiplin termasuk di dalamnya pematung, penari, musisi, dan aktor teater dan aktor film. Pendekatan ‘step-by-step’ atau langkah-demi-langkah akan digunakan. Pendekatan dimulai dengan retret seniman—sebuah forum di mana masing-masing seniman akan memperkenalkan latar belakang artistik mereka satu sama lain, kemudian berlanjut ke penelitian, keterlibatan artistik, penciptaan dan kolaborasi, dan pada akhirnya kemungkinan pada partisipasi publik. Diharapkan proyek ini akan mengadvokasi dan merevitalisasi keragaman etnis dan estetika lokal, di samping perspektif global.Kebebasan ekspresi individu dipertanyakan dan ‘dipisahkan’ dari peredaran modal finansial.

Program ini diinisiasi dan dikoordinasikan oleh Nindityo Adipurnomo.

Turning Targets #8 – Film Dokumenter ‘Whip and Run’

Proses: 1 Januari – 30 Desember 2013

Pemutaran perdana: Desember 2013

Sementara seni rupa di Indonesia telah berkembang secara dinamis selama dua dekade terakhir, film dokumenter tentang gerakan seni dan tokoh-tokoh kunci yang belum tergarap dengan optimal. Film dokumenter ini menunjukkan pentingnya dan dampak dari seni visual di Indonesia melalui diskusi dengan seniman-seniman yang terkemuka. Film ini akan menyajikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana makna diciptakan melalui seni rupa dan akan mewakili fenomena tertentu. Seniman akan mengkontekstualisasikan bagaimana mereka menghadapi kehidupan sehari-hari mereka: lingkungan sosial yang lebih luas, sejarah, masalah politik, dan bagaimana mereka mengubah konteks mereka melalui proses kreatif. Film dokumenter ini juga akan merefleksikan berbagai macam gerakan dan era dari tahun 80-an hingga saat ini.

Pembuatan film dokumenter ini berkolaborasi dengan Forum Lenteng, Jakarta.

Turning Targets #9 – Buku 25 years Cemeti Art House

Peluncuran: akhir Desember 2013

Buku 25 tahun Cemeti akan digarap untuk menangkap dan merekam fenomena seni rupa kontemporer Indonesia. Penerbitan buku ini akan menekankan pada wacana kritis yang berkontribusi pada penciptaan kritik budaya intelektual. Selama satu tahun terakhir, Rumah Seni Cemeti telah mengadakan berbagai Focus Group Discussions bersama seniman, kurator dan peneliti dari berbagai generasi. Hasil dari diskusi tersebut akan dirangkum dalam buku ini. Dokumentasi dan tulisan mengenai program-program dalam Turning Targets selama tahun 2013 juga akan menjadi bagian penting dari publikasi ini.

Contact

Rumah Seni Cemeti

Jl. D.I. Panjaitan 41

Yogyakarta 55143

Telp/Fax +62 (0) 274 371 015
HP +62 (0) 812 273 3564
E-mail cemetiah@indosat.net.id
cemeti@cemetiarthouse.or.id
25years@cemetiarthouse.or.id
Website 25years.cemetiarthouse.com
cemetiarthouse.com
Buka 09.00 – 17.00, hari Minggu – Senin tutup

Tim Kerja

Direktur Artistik Nindityo Adipurnomo
 Mella Jaarsma
Kurator  Adeline Ooi
 Alia Swastika
 Farah Wardani
Film Dokumenter Hafiz
Dokumentasi Theodora Agni
Sri Suryandari
Video ZulHiczar Arie
Rancang Website Rony Lantip
Manajer Proyek Agnesia Linda Mayasari
Sita Sari Trikusumawardhani
Pemagang Briony Galligan

Your files have downloaded successfully into the My Downloads folder.

Currently using 36% of your storage space.