Young Curator's Forum Part 2 (8 March 2013) Participants and the jury
Young Curator's Forum Part 2 (8 March 2013)
OneNightStand, 2 February 2013 | mural by EddiE haRA (photograph taken by Budi N D Dharmawan)
OneNightStand, 2 February 2013 | The APTs (left to right): Heri Dono, Nindityo Adipurnomo, Mella Jaarsma, Wedhar Riyadi, Uji Handoko, Christine Clark, Marintan Sirait, Moelyono, Agus Ismoyo, Edwin Roseno (down)

Turning Targets #1 – OneNightStand

2 Februari 2013,  pukul 16.00 – 24.00

‘OneNightStand’ adalah pesta perayaan dan proyek seni satu malam dimana para seniman dan praktisi seni akan diundang untuk berkontribusi ‘sesuatu’ pada satu malam secara simultan. Mereka akan membawa karya seni atau menciptakan karya seni untuk dipamerkan pada saat itu, seperti mural, performance, karya video, dan sebagainya. Seniman dari berbagai disiplin, aktivis kesenian termasuk kurator, kolektor,  event organizers, kritikus seni, peneliti, budayawan dan berbagai organisasi seni akan diundang untuk berpartisipasi, juga sebagai hadirin yang dapat mengapresiasi seluruh peristiwa dalam presentasi OneNightStand ini.

Program ini khusus untuk tamu undangan.

Turning Targets #2 – Forum Kurator Muda

9 Januari 2013 , pukul 16.00 – 20.00, di LIP-IFI Yogyakarta

Diskusi panel tentang ‘praktik kuratorial’ dengan Enin Supriyanto, Agung Hujatnika, Sujud Dartanto dan Alia Swastika.

10, 11, 12 Januari 2013

Forum / Workshop dengan 17 peserta kurator muda terpilih dari Jakarta, Bandung dan Yogyakarta di Rumah Seni Cemeti.

5,6,7,8 Maret 2013

Forum / Workshop dengan 17 peserta yang sama di Rumah Seni Cemeti, presentasi proposal oleh masing-masing peserta.

September, November 2013

Dua kurator muda yang terseleksi akan merealisasikan proposal mereka dalam proyek pameran.

Workshop kurator ini akan diselenggarakan dengan kombinasi diskusi, dengan metode mentoring dengan fasilitator untuk merangsang kemunculan kurator muda di Indonesia. Peserta workshop akan membagi pengalamannya, dan pada saat yang sama, akan didorong untuk menyuarakan ide dan konsepnya. Sesi-sesi diskusi ini akan dibawakan oleh kurator yang telah mapan, seniman, pemilik galeri, dan bagian institusi seni dengan bahasan:

  • diskusi mengenai peran kurator dalam bidang seni secara luas
  • konteks politik dalam penciptaan seni
  • infrastruktur dan kekuatan pasar
  • menghimpun pengetahuan dan penciptaan wacana
  • globalisasi kesenian pada masa kini

Para pembicara tamu diharapkan lebih berperan sebagai fasilitator yang mampu memancing peserta untuk melihat kasus-kasus yang ditampilkan dalam berbagai perspektif yang berbeda. Setelah itu, para peserta didorong untuk menciptakan satu proposal kuratorial yang akan diwujudkan menjadi pameran pada bulan September dan November 2013.

Metode mentoring merujuk pada sejarah pendidikan seni di Indonesia pada masa lalu yang banyak mengandalkan metode sanggar, dimana para empu atau senior membagi pengalaman secara langsung kepada generasi yang lebih muda. Pada kenyataannya, jika kita merefleksikan kembali pada konteks masa kini, tampak bahwa metode sanggar dan nyantrik ini menunjukkan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi dalam pedagogi. Selain itu, metode ini juga menyaran pada praktik, sesuatu yang dibutuhkan ketika seorang kurator mulai bekerja di lapangan.

Forum Kurator muda ini menjadi pilot project untuk Akademi Kurator yang nantinya akan dikembangkan oleh Yayasan Biennale Yogyakarta.

Program ini dilaksanakan berkolaborasi dengan Alia Swastika dan Yayasan Biennale Yogyakarta.

Turning Targets #3 – Realities: Cemeti Archived

15 Februari – 10 Maret 2013

Pembukaan: 15 Februari 2013, pukul 19.30

Pameran Arsip 25 Tahun Cemeti serangkaian dokumentasi dalam berbagai format (tulisan, foto, video, audio, kliping dan sebagainya) yang terseleksi menandai berbagai momentum penting dalam perjalanan Cemeti Art House sejak 1988. Namun, pameran ini tidaklah sekadar mengetengahkan dokumen-dokumen lama yang dipajang dan mewakili ‘kisah-kisah sukses’ CAH semata.

Pameran arsip ini mencoba menggali dan mempertanyakan kembali berbagai pengkaryaan, gagasan, strategi budaya dan pemikiran yang telah bermula di CAH. Ini juga termasuk menelusuri lagi rekam jejak dari karya-karya dan wacana setelah berproses dan tercipta di Cemeti, yang kemudian banyak dikembangkan lagi di luar CAH, baik di dalam mau pun di luar negeri. Dengan pameran arsip ini, diharapkan pelaku yang pernah terlibat mau pun generasi baru bisa mendapatkan pengetahuan dan refleksi akan seni rupa kontemporer sekarang di era Global Art saat ini, serta menetapkan strategi baru ke depan.

Pameran ini terbagi menjadi lima bagian:

  1. Gambaran sejarah singkat Cemeti melalui dokumentasi yang tersusun melalui timeline kronologis, dengan menghadirkan koleksi poster CAH.
  2. Arsip rekam jejak pengkaryaan perupa yang menghadirkan perjalanan karya-karya terseleksi dari Cemeti dan selanjutnya, dalam format multimedia, dan ditambah dokumentasi wawancara perupa-perupa yang bersangkutan.
  3. Arsip rekam jejak wacana/konsep kuratorial yang pernah tergagas di Cemeti dalam format kolaborasi dengan berbagai kurator/peneliti/komunitas dan sebagainya. Arsip dalam format multimedia, ditambah dengan dokumentasi wawancara para kolaborator di masa kini yang merefleksikan kembali segala gagasan tersebut.
  4. Pameran katalog CAH selama 25 tahun, arsip asli dipajang dalam meja display kaca, dan versi digital dapat dibaca pengunjung melalui komputer/touch screen monitor yang disediakan.
  5. Pameran beberapa artefak/replika karya-karya seniman terpilih yang pernah dipamerkan di Cemeti, yang sehubungan dengan rekam jejak karya dan wacana.

Program ini dikurasi oleh Farah Wardani dan Pitra Hutomo bersama dengan Indonesian Visual Art Archive (IVAA).

Turning Targets  #4 – Mengoleksi Hujan / Collecting Rain

14 Maret – 5 April 2013

Pembukaan: 14 Maret 2013, pukul 19.30

Pameran ini menggelar koleksi Rumah Seni Cemeti yang untuk pertama kalinya dibuka kepada khalayak masyarakat luas; koleksi mini dari karya-karya yang juga berukuran mini, yang sebagian besar adalah karya di atas kertas. Karya seniman ternama yang dipromosikan secara aktif melalui Rumah Seni Cemeti akan menjadi bagian dari koleksi ini. Program ini disusun sebagai wacana berlanjutnya gagasan gagasan kearsipan Cemeti, melengkapi dan membongkar sejarah berkesenian melalui pembacaan ulang karya-karya koleksi.

Pameran ini akan mengetengahkan gagasan-gagasan aktifitas sosial masyarakat yang menampilkan sifat alami interrelasi manusia dengan benda/barang, serta mengenai wacana dan pemahaman manusia mengenai benda/barang senantiasa berubah, yang acapkali diekspresikan dalam bentuk kegiatan mengoleksi.

Fenomena mengoleksi karya seni oleh kolektor lokal dan regional, misalnya, tidak terlepas dari dilema membeli dan menjual koleksi untuk meningkatkan nilai dan keuntungan pribadi. Pemerintah baru saja mulai mengoleksi karya seni, dengan harapan bahwa masyarakat terpelajar Indonesia akan semakin dekat dan memiliki akses ke koleksi untuk mempelajari sejarah seni. Benarkah bahwa nilai-nilai dalam seni dapat secara langsung dibandingkan dengan kebutuhan pasar saja? Apakah hanya perekonomian yang pada akhirnya dipakai untuk mengukur dan menentukan kualitas dan nilai dari seni?

Program ini dikurasi oleh Nindityo Adipurnomo.

Turning Tragets  #5 – Proyek / Pameran ‘Dobrak !’

Bagian I: 7 Juli  – 20 Agustus 2013

Pembukaan:  7 Juli 2013, pukul 19.30

Bagian II: pameran di luar Jawa – 2014

Dalam Bahasa Indonesia, kata ‘mendobrak’ berarti menerobos, mematahkan atau melanggar. Namun kata melanggar dapat diartikan berbeda; di satu sisi dapat bersifat agresif, penuh kekerasan dan merusak, tapi di sisi yang lain dapat berarti kenakalan dan keingintahuan, kebutuhan untuk berubah yang proaktif dan positif, untuk menantang batasan-batasan dalam proses penemuan diri dan perubahan, untuk tumbuh dan berkembang. Dobrak! ingin mengadopsi penafsiran positif dari mendobrak, sebagai langkah penting dalam proses untuk pembaruan, untuk melangkah maju. Hal ini berlaku pada gagasan mematahkan—mematahkan tradisi, mematahkan persepsi prasangka, mematahkan stereotip atau menerobos batas-batas untuk memetakan wilayah-wilayah baru, identitas dan pembacaan baru.

‘Waktu dan Aksi’, yang terkait dengan ‘Ritual Temporer’ akan menjadi tema utama dalam proyek ini. Penelitian dan kolaborasi lintas-disiplin merupakan kunci untuk pengembangan pameran ini: seniman didorong untuk mengangkat topik tertentu dan akan dipasangkan dengan antropolog, ahli cultural studies, sosiolog dan sejarawan dalam perjalanan “lapangan” untuk belajar, meneliti dan mengumpulkan informasi bersama kolaborator masing- masing mengenai pokok materi sebelum dimulainya penciptaan karya seni.

Model Pameran ini diharapkan dapat mendorong lima seniman untuk berpikir di luar zona ternyaman, terdekat mereka dan mendorong pendekatan yang berbeda untuk penciptaan seni dan perumusan ide. Melalui pertukaran dengan para ahli dari bidang ilmu-ilmu sosial, serta keterlibatan dengan masyarakat yang berbeda, kurator berharap bahwa latihan ini akan memperkaya proses artistik dan praktik mereka sendiri dan mendorong lebih jauh dalam pembacaan dan pemahaman yang kritis mengenai lingkungan mereka.

Proyek dan Pameran ini dikurasi oleh Adeline Ooi dan Mella Jaarsma.

Turning Targets #6 – Forum Manajemen Seni Rupa

21,22,23,24 Oktober 2013

Forum Manajemen Seni Rupa ini akan menjadi ruang belajar bersama untuk mengembangkan profesionalitas para manajer dari organisasi seni rupa di Indonesia, baik dalam ranah konseptual maupun teknis. Mereka akan diberi kesempatan untuk memperluas pengetahuan mengenai keberagaman praktek manajemen organisasi seni rupa di Indonesia untuk memperkuat strategi, idealisme dan keberlanjutan organisasi atau komunitas.

Forum manajer organisasi seni rupa ini akan diselenggarakan selama tiga hari, dengan kombinasi antara presentasi, workshop dan studi lapangan. Dalam forum ini akan diundang 25 organisasi seni rupa dari Jawa dan Bali. Melalui presentasi, akan terjadi ruang dialog dan diskusi dimana masing-masing manajer yang mewakili organisasi, dapat membagikan pengalaman dan strategi kerja manajerial di dalam organisasinya, termasuk didalamnya manajemen sumber daya, manajemen dan pengembangan seniman, manajemen publik dan promosi.

Sesi workshop akan mengundang pembicara utama yang menyampaikan ilmu dan pengetahuannya mengenai berbagai topik manajemen seperti administrasi dan perpajakan, perencanaan pameran, presentasi karya, advokasi seni kepada publik, pengetahuan estetika dan kebudayaan lokal, strategi promosi dan publikasi, dokumentasi dan pengarsipan, serta jejaring lokal, regional dan internasional. Diskusi tersebut akan memantik dialog interaktif dengan peserta mengenai topik terkait.

Sementara studi lapangan akan dilakukan dengan cara kunjungan ke beberapa organisasi seni rupa di Yogyakarta yang dianggap memiliki sistem manajerial yang menarik.

Kunjungan ke organisasi seni dirancang untuk memberikan konteks dan paparan mengenai berbagai organisasi. Kunjungan ini juga menekankan pada relasi tempat/ruang dengan pola manajerial.

Pada sesi terakhir peserta diberikan ruang untuk memberikan tanggapan sebagai evaluasi mengenai bentuk manajemen yang relevan dalam konteks sosial budaya saat ini dan proyeksi keberlanjutan forum di masa yang akan datang.

Program ini dilaksanakan berkolaborasi dengan Kelola, Jakarta.

Turning targets  #7 – Pseudo Partisipative Project

Proses: Januari – Desember 2013

Pameran: 14 Desember 2013 – 11 Januari 2014

Pembukaan: 14 Desember 2013, pukul 19.30

Proyek ‘partisipatif’ ini adalah sebuah usaha untuk melacak dan mendesain ulang variasi dari proses-proses kreatif di dalam bidang seni. Proyek keterlibatan antargenerasi ini menyatukan berbagai seniman lintas-disiplin termasuk di dalamnya pematung, penari, musisi, dan aktor teater dan aktor film. Pendekatan ‘step-by-step’ atau langkah-demi-langkah akan digunakan. Pendekatan dimulai dengan retret seniman—sebuah forum di mana masing-masing seniman akan memperkenalkan latar belakang artistik mereka satu sama lain, kemudian berlanjut ke penelitian, keterlibatan artistik, penciptaan dan kolaborasi, dan pada akhirnya kemungkinan pada partisipasi publik. Diharapkan proyek ini akan mengadvokasi dan merevitalisasi keragaman etnis dan estetika lokal, di samping perspektif global.Kebebasan ekspresi individu dipertanyakan dan ‘dipisahkan’ dari peredaran modal finansial.

Para seniman dipilih untuk menjadi pemikir vokal dan kritis mengenai konsep lokal dan global. Integritas artistik mereka terlihat dalam totalitas, melalui peran dan kapasitas sebagai seniman / kreator serta motivator melalui lembaga terkait dan masyarakat. Sekitar 15 sampai 20 seniman yang diundang adalah katalis kunci dari perkembangan budaya dan semuanya tinggal di dan di sekitar Yogyakarta.

  • Setiap seniman akan menentukan dua atau tiga acara seni di Yogyakarta untuk diamati dan dipelajari menggunakan metodologi artistik mereka sendiri.
  • Kemudian mereka akan menyajikan temuan-temuan pada masing-masing platform dengan model interaktif dari latar belakang multi-disiplin.
  • Para seniman yang berpartisipasi akan merefleksi secara kritis pada catatan-catatan dan opini penting mereka, yang kemudian akan dijadikan inspirasi baru mereka untuk bekerja dengan komunitas / lembaga masing-masing.
  • Tujuannya adalah untuk membuat terobosan kreatif, terbaru, dengan konsep / idiom / media dari berbagai bentuk seni. Diharapkan bahwa memulai saling pengertian pada ide-ide dasar, persepsi-persepsi baru, kesimpulan berani, kritik, dan peremajaan strategi, akan menjadi inspirasi bagi pendekatan baru dalam karya-karya mereka (baik secara individual maupun kolektif).

Pada akhirnya, akan ada presentasi, pameran dokumentasi dari proyek-proyek tersebut dalam berbagai format, termasuk karya-karya audio visual, serta sebuah buku post-event mengenai proyek ini, yang memuat tulisan dari semua partisipan.

Program ini diinisiasi dan dikoordinasikan oleh Nindityo Adipurnomo.

Turning Targets #8 – Film Dokumenter ‘Whip and Run’

Proses: 1 Januari – 30 Desember 2013

Pemutaran perdana: December 2013

Sementara seni rupa di Indonesia telah berkembang secara dinamis selama dua dekade terakhir, film dokumenter tentang gerakan seni dan tokoh-tokoh kunci yang belum tergarap dengan optimal. Film dokumenter ini menunjukkan pentingnya dan dampak dari seni visual di Indonesia melalui diskusi dengan seniman-seniman yang terkemuka. Film ini akan menyajikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana makna diciptakan melalui seni rupa dan akan mewakili fenomena tertentu. Seniman akan mengkontekstualisasikan bagaimana mereka menghadapi kehidupan sehari-hari mereka: lingkungan sosial yang lebih luas, sejarah, masalah politik, dan bagaimana mereka mengubah konteks mereka melalui proses kreatif. Film dokumenter ini juga akan merefleksikan berbagai macam gerakan dan era dari tahun 80-an hingga saat ini. Peran seperti apakah yang diisi seni dalam masyarakat Indonesia di bawah rezim Soeharto, di masa reformasi dan masa sekarang? Capaian apa yang telah diraih?

Seniman dari berbagai generasi yang berbeda akan diwawancarai. Ditampilkan mengenai karya dari seniman mid-karir yang mengangkat isu-isu spesifik dengan perhatian pada masalah politik dan sosial, berdasarkan penelitian dan eksperimen. Inilah generasi seniman yang telah digantikan oleh generasi seniman baru yang ingin bersenang-senang dengan seni dan membuat karya seni sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari mereka saat berkomunikasi melalui facebook, produksi musik, saat merancang merchandise dan produk. Film dokumenter ini akan secara terkini menentukan sifat dan laju perkembangan seni dan wacana di Indonesia.

Pembuatan film dokumenter ini berkolaborasi dengan Forum Lenteng, Jakarta.

Turning Targets #9 – Buku 25 years Cemeti Art House

Peluncuran: akhir Desember 2013

Buku 25 tahun Cemeti akan digarap untuk menangkap dan merekam fenomena seni rupa kontemporer Indonesia. Penggarapan buku ini dilakukan melalui dua kanal perspektif terhadap objek bahasan. Pertama adalah sudut pandang Cemeti sebagai pelaku seni rupa kontemporer Indonesia—yang dianggap tidak memiliki jarak dengan diri sendiri dan menghapus keberadaan dirinyad dari sejarah—akan menyajikan perspektif internal tentang peran mereka dalam seni kontemporer Indonesia. Sudut pandang kedua adalah pembacaaan lain diluar Cemeti, yang mengkaji, mengkritisi dan membahas resepsi pada seni rupa kontemporer Indonesia dan peran Cemeti di dalamnya.

Penerbitan buku ini akan menekankan pada wacana kritis yang berkontribusi pada penciptaan kritik budaya intelektual. Selama satu tahun terakhir, Rumah Seni Cemeti telah mengadakan berbagai Focus Group Discussions bersama seniman, kurator dan peneliti dari berbagai generasi. Hasil dari diskusi tersebut akan dirangkum dalam buku ini. Dokumentasi dan tulisan mengenai program-program dalam Turning Targets selama tahun 2013 juga akan menjadi bagian penting dari publikasi ini.

Kutipan dalam artikel ‘What are we waiting for’, Art Asia Pacific, issue Nov. Dec. 2012 oleh Mella Jaarsma / Nindityo Adipurnomo:

Lima tahun terakhir ini telah membawa perubahan yang sangat penting dalam dunia seni rupa di Indonesia, terutama mengenai tren untuk ‘going global’ dan kemunculan pengaruh dari tekanan pasar. Perkembangan ini telah memaksa kami untuk menimbang kembali relevansi dan fungsi dari seni itu sendiri. Tampaknya pada saat ini kami tidak dapat mempengaruhi hal-hal yang terjadi di sekitar kita, yang pada akhirnya berujung pada situasi konsumsi pasif. Apabila dulu seni pernah menjadi sebuah cara untuk melihat sesuatu secara berbeda dan memberikan pandangan alternatif, kini yang menjadi pertanyaan adalah: Apa yang kita harapkan dari seni? Apa fungsi seni di dalam masyarakat seperti di Indonesia? Apakah kita masih memerlukan seni untuk menantang kita?

Seni telah berada dalam situasi krisis, dan kita berharap pada sebuah reaksi—sebuah inisiatif yang dapat memperbaiki posisinya. Namun sejujurnya, para pelaku dalam komunitas seni yang selalu menyuarakan pendapatnya kini telah berusia 35 tahun atau lebih. Sedangkan generasi yang lebih muda saat ini bergerak di dalam zona nyamannya atau berada dalam kebingungan, mereka tidak ingin berada di bawah patron generasi sebelumnya dan pada saat yang sama tidak mempunyai musuh yang harus dilawan. Kita harus menunggu dan melihat apa yang akan mengubahnya.

Your files have downloaded successfully into the My Downloads folder.

Currently using 36% of your storage space.