Turning Targets #9 – Buku 25 Tahun Cemeti

Buku 25 tahun Cemeti akan digarap untuk menangkap dan merekam fenomena seni rupa kontemporer Indonesia. Penggarapan buku ini dilakukan melalui dua kanal perspektif terhadap objek bahasan. Pertama adalah sudut pandang Cemeti sebagai pelaku seni rupa kontemporer Indonesia—yang dianggap tidak memiliki jarak dengan diri sendiri dan menghapus keberadaan dirinyad dari sejarah—akan menyajikan perspektif internal tentang peran mereka dalam seni kontemporer Indonesia. Sudut pandang kedua adalah pembacaaan lain diluar Cemeti, yang mengkaji, mengkritisi dan membahas resepsi pada seni rupa kontemporer Indonesia dan peran Cemeti di dalamnya.
Penerbitan buku ini akan menekankan pada wacana kritis yang berkontribusi pada penciptaan kritik budaya intelektual. Selama satu tahun terakhir, Rumah Seni Cemeti telah mengadakan berbagai Focus Group Discussions bersama seniman, kurator dan peneliti dari berbagai generasi. Hasil dari diskusi tersebut akan dirangkum dalam buku ini. Dokumentasi dan tulisan mengenai program-program dalam Turning Targets selama tahun 2013 juga akan menjadi bagian penting dari publikasi ini.

Kutipan dalam artikel ‘What are we waiting for’, Art Asia Pacific, issue Nov. Dec. 2012 oleh Mella Jaarsma / Nindityo Adipurnomo:

Lima tahun terakhir ini telah membawa perubahan yang sangat penting dalam dunia seni rupa di Indonesia, terutama mengenai tren untuk ‘going global’ dan kemunculan pengaruh dari tekanan pasar. Perkembangan ini telah memaksa kami untuk menimbang kembali relevansi dan fungsi dari seni itu sendiri. Tampaknya pada saat ini kami tidak dapat mempengaruhi hal-hal yang terjadi di sekitar kita, yang pada akhirnya berujung pada situasi konsumsi pasif. Apabila dulu seni pernah menjadi sebuah cara untuk melihat sesuatu secara berbeda dan memberikan pandangan alternatif, kini yang menjadi pertanyaan adalah: Apa yang kita harapkan dari seni? Apa fungsi seni di dalam masyarakat seperti di Indonesia? Apakah kita masih memerlukan seni untuk menantang kita?
Seni telah berada dalam situasi krisis, dan kita berharap pada sebuah reaksi—sebuah inisiatif yang dapat memperbaiki posisinya. Namun sejujurnya, para pelaku dalam komunitas seni yang selalu menyuarakan pendapatnya kini telah berusia 35 tahun atau lebih. Sedangkan generasi yang lebih muda saat ini bergerak di dalam zona nyamannya atau berada dalam kebingungan, mereka tidak ingin berada di bawah patron generasi sebelumnya dan pada saat yang sama tidak mempunyai musuh yang harus dilawan. Kita harus menunggu dan melihat apa yang akan mengubahnya.

Your files have downloaded successfully into the My Downloads folder.

Currently using 36% of your storage space.