Turning Targets #5 – Proyek/Pameran ‘Dobrak!’

Dobrak: Menjalankan Hal-Hal Secara Mandiri

Dalam Bahasa Indonesia, kata dobrak berarti “membongkar” atau “menghancurkan”. Tindakan membongkar dapat dibaca dengan konotasi negatif—sebagai destruktif atau kasar, atau dalam rasa positif sebagai langkah yang diperlukan dalam proses pembaruan dan kemajuan. Sejalan dengan tujuan Turning Target,  program Perayaan 25 Tahun Cemeti, Dobrak menyiratkan pendobrakan atas tradisi, membongkar praduga, stereotip dan batasan seiring Rumah Seni Cemeti bergerak menyongsong masa depan.

Berfokus pada proses kerja sama dan kerja tim sebagai alternatif dari individualisme yang merupakan karakter khas dunia seni, kami mengundang para seniman untuk bermitra dengan para ahli dari bidang antropologi, kajian budaya dan ilmu sosial lainnya, bersama-sama membuat proposal kerja misalnya memilih sebuah topik atau pokok masalah yang mereka minati, meneliti subjek tersebut bersama-sama, dan membuat karya atau proyek yang berkaitan dengan lingkup penelitian mereka baik sebagai individu maupun sebagai tim. Sepertinya tak aneh bahwa sejumlah peserta yang bekerja sama untuk pertama kalinya dalam pameran ini ternyata teman sejak lama atau akrab dengan minat dan praktik masing-masing.

Cara seseorang berkomunikasi sangat mendasar dalam sebuah kerja sama. Tiap proses melibatkan negosiasi, kesepakatan dan ketidaksepakatan, pertimbangan dan kompromi. Kelima proyek yang ditampilkan dalam pameran ini adalah hasil proses pengembangan selama 6 bulan dan minat mereka secara luas menyertakan agama sebagai tontonan hingga perubahan persepsi atas tradisi pembuatan batik, dari objek bekas dan pasar gelap dan penjudi togel, dan kemajuan jejaring sosial pada masyarakat tani pedesaan. Cara kerja masing-masing tim berbeda; ada tim yang memilih untuk berbagi informasi dan sumber daya tetapi bekerja secara terpisah sedangkan yang lain memilih untuk bekerja sama menghasilkan karya sebagai rekanan.

Apakah kerja sama merupakan metode yang lebih baik dan memproduksi hasil yang lebih bagus? Kami menyadari bahwa kerja sama seringkali “lumayan berhasil” atau dalam beberapa kasus “sama sekali gagal”. Sebagian besar bergantung pada yang bekerja sama dan konteksnya, berada di saat yang tepat dan ruang (kepala) yang tepat seperti halnya kekuatan lain yang menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah kerja sama. Yang jelas kegiatan ini telah membawa kita ke tempat yang baru dan untuk melakukan hal-hal yang biasanya tidak dilakukan.

Ade Darmawan & Nuraini Juliastuti

‘Kehidupan baru dari yang kita anggap sebagai akhir perjalanan nasib benda-benda dan peristiwa-peristiwa’

Dengan pertanyaan “dapatkah hidup didaur ulang?” Ade Darmawan dan Nuraini Juliastuti memulai perjalanan unik untuk memahami kehidupan paralel serangkai objek dan kejadian melalui sebuah instalasi yang memadukan antara fakta canggung yang terkadang luar biasa dengan fiksi. Proyek ini berfokus pada contoh-contoh genting di mana objek tertentu di lingkungan terdekat kita mencapai akhir masa hidupnya. Apakah nasib membawa mereka kepada titik akhir yang tunggal itu? Ataukah beberapa yang “beruntung” mampu menyeberang ke rute paralel dan meneruskan hidup atau memulai yang baru di wilayah baru dan rumah baru?

Ade Darmawan & Nuraini Juliastuti mengembangkan instalasi ini dengan menerima dan menyertakan serangkaian intervensi dalam proses berlapis untuk mengulang rute tak terduga yang mungkin telah diambil oleh beberapa objek  sebelum dipamerkan dalam instalasi ini. Objek-objek yang ditampilkan terinspirasi oleh sekumpulan berita dan artikel terpilih yang dijaring dari berbagai sumber media cetak, yang telah diubah menjadi teks fiksi oleh seorang penulis tamu.

Sedangkan objek-objek dalam instalasi ini, ‘digali’ dari berbagai pasar barang bekas di Jakarta dan Yogyakarta, telah pula mengalami berbagai proses seleksi ketika mereka berpindah-pindah tangan—dari pemilik pertama kepada penimbun, pemulung untuk penadah barang bekas, dll.—sebelum mereka sampai di pasar. Asal muasal masing-masing objek tetap tidak jelas; mereka adalah subjek kisah para penjual dan ingatan orang lain. Instalasi ini mengundang pemirsanya untuk merenungkan nasib objek-objek tersebut dan kisah yang ditampilkan dan mengambil waktu sejenak untuk menghargai aneka “kehidupan” objek-objek tersebut dan kisah-kisah yang mungkin telah dialami.

Ade Darmawan (lahir 1974) adalah seorang seniman, kurator dan direktur sekaligus salah satu pendiri Ruangrupa, sebuah inisiatif seni di Jakarta. Pameran tunggalnya yang terbaru antara lain “Human Resource Development” di Ark Galerie, Jakarta (2012) dan “Home Theater” di artclub1563: contemporary art center, Seoul (2013)

Nuraini Juliastuti (lahir 1975) adalah salah seorang pendiri dan direktur KUNCI Cultural Studies Center di Yogyakarta. Ia adalah kandidat PhD di Universitas Leiden. Penelitiannya mengenai musik populer juga merupakan bagian dari proyek Modernitas dan Tradisi Asia.

Iswanto Hartono & Aryo Danusiri

‘Kitmir’

“Anjing aja bisa masuk syurga gara-gara taat pada tuannya seperti Ashabul Kahfi. Kenapa manusia susah aje diajak taat?”

Tujuh Orang Suci yang Tertidur merujuk pada sekelompok pemuda yang melarikan diri dari kota dan berlindung dalam sebuah gua untuk menyelamatkan diri karena mereka tidak mempercayai agama yang dijunjung negaranya. Dikenal juga sebagai Ashabul Kahfi (Orang-orang Gua), pemahaman Islam tentang Tujuh Orang Suci yang Tertidur menyebutkan Kitmir (atau Al-Rakim), anjing salah satu dari tujuh pemudah itu yang berjaga di pintu gua dengan kaki-kaki merentang, mengawasi Tuannya dan teman-temannya selama lebih dari 300 tahun. Kitmir dan sembilan mahluk lainnya—termasuk burung hud-hud, unta betina dan sapi—adalah binatang-binatang yang disukai dan semuanya mendapatkan tempat di surga karena pengorbanan dan kesetiaan sebagai pengabdi yang taat atau pengikut.

Aryo Danusiri dan Iswanto Hartono meneliti fenomena akhir-akhir ini mengenai gempitanya perayaan Maulid di ruang-ruang terbuka di Jakarta yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok pengikut keturunan Hadrami (Habib). Melalui proses kerja lapangan, mereka menemukan komentar yang diutarakan oleh seorang Habib terkenal di Jakarta yang membandingkan kesetiaan Kitmir-nya Ashabul Kahfi dengan para pengikut manusia. Ditampilkan dalam bentuk diorama dan rekaman langsung yang ditayangkan langsung dari ‘surga’ dengan menampilkan 10 hewan suci, “Kitmir” adalah eksplorasi imaginatif mengenai hubungan antara Tuan dan pengikutnya dan penekanan pada kesetiaan dan ketaatan, juga menyampaikan cara kelompok tertentu ini menggambarkan kekuatan, hirarki dan agama sebagai bentuk tontonan.

Aryo Danusiri (lahir 1973) adalah seorang seniman video dan ahli antropologi. Saat ini ia sedang menyelesaikan gelar Ph.D untuk program Antropologi Media dengan bidang tambahan Praktik Media Kritis di Universitas Harvard.

Iswanto Hartono (lahir 1972) adalah seorang seniman dan arsitek. Ia adalah Mitra Peneliti dan anggota ARTLAB ruangrupa sejak 2009. Karyanya baru-baru ini dipamerkan dalam “Market Forces: The Friction of Opposites” di Osage Kwun Tung, Hong Kong (2013).

Leonardiansyah Allenda

‘Seni Kecepatan’

Terinspirasi oleh penelitian Dr. Pujo Semedi tentang perburuan celeng di Petung Kriyono sebagai ritual simbolis untuk mengukuhkan kejantanan para pria dalam masyarakat tersebut, Leonardiansyah pergi ke Petung Kriyono awal tahun ini dengan harapan memahami ritual unik ini lebih jauh namun mendapati perubahan drastis telah melanda masyarakat tersebut. Perkembangan teknologi dan infrastruktur baru telah menguasai desa tersebut dan membuat warga Petung Kriyono tiba-tiba dapat mengakses informasi, komunikasi dan transportasi dengan sangat mudah. Akses yang cepat dan kecepatan pertukaran informasi yang luar biasa menyebabkan perubahan besar pada persepsi mereka akan diri sendiri dan lingkungannya, mengubah gaya hidup mereka dan cara mereka berkomunikasi serta berinteraksi satu sama lain. Bentuk perubahan ini tidak mengherankan; ini adalah fenomena global yang telah mempengaruhi banyak wilayah pedesaan di seluruh dunia.

Leonardiansyah memamerkan hasil observasi dan pengalamannya di Petung Kriyono setelah mengalami “kemajuan” teknologi yang merajalela sebagai platform silang pengiriman pesan selular, telepon selular dan/atau smartphone mengunggah dan mengunduh teks, gambar, video dan musik mp3, facebook dan beraneka bentuk komunikasi dan kekaring komunikasi informasi berbasis data yang telah menjadi sebuah norma di luar sana. Sang seniman memeriksa keanehan dan kejanggalan akibat pengaruh teknologi informasi terhadap kehidupan individu dan kesadaran bersama warga Petung Kriyono, sebuah masyarakat pertanian, melalui katalog yang mendokumentasikan kerja lapangannya, dibuat bersama seorang desainer grafis dari Bandung, juga sebuah karya berbasis foto yang terinsipirasi lanskap Petung Kriyono.

Leonardiansyah Allenda (lahir 1984) meraih gelar sarjana untuk jurusan seni patung pada tahun 2008 di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia tertarik pada hubungan antara manusia dan lingkungannya. Ia menampilkan pameran tunggal “Made in Heaven” di Inkubator di Jakarta (2012).

Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A. adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta.

Restu Ratnaningtyas & Leilani Hermiasih

‘Visi Muram Tradisi yang Sekarat’

Bekerja sama dengan seniman rupa Restu Ratnaningtyas, lulusan antropologi budaya/musisi Leilani Hermiasih memperluas skripsinya mengenai perubahan sosial dan efeknya terhadap tradisi produksi batik di Yogyakarta. Mereka menjalin kemitraan untuk memahami lebih jauh asumsi dan pertanyaan yang melingkupi pemahaman seseorang atas tradisi dan produksi batik tradisional di Yogyakarta, sebuah bentuk seni yang dihormati dan memiliki akar yang sangat kuat dalam kebudayaan Yogyakarta yang kaya.

“Yang mana yang dianggap batik ‘tradisional’’?”; “Bagaimana cara menilai ‘tradisional’?”; “Siapa yang memegang hak untuk menilai sesuatu sebagai ‘tradisional’?” dan “Dapatkah yang tradisional dibuat menjadi kontemporer?” adalah satu dari banyak pertanyaan yang senantiasa diangkat sepanjang upaya penyelidikan mereka dari pusat produksi hingga berbagai pasar. Seraya menyingkap pergeseran pemahaman dan definisi ‘tradisi’ atau ‘tradisional’ (dalam konteks produksi batik), yang telah dipengaruhi perubahan sosial dan ekonomi dalam gaya hidup kontemporer begitu pula perkembangan teknologi dan telah menghasilkan motif dan metode produksi baru di Yogyakarta, Restu Ratnaningtyas dan Leilani Hermiasih menerjemahkan hasil penelitian mereka dengan menciptakan bentuk “kontemporer (namun) tradisional” melalui batik, video animasi gambar tangan dan komposisi musik.

Restu Ratnaningyas (lahir 1981) adalah seniman dan ilustrator yang tinggal di Jogjakarta. Pameran kelompok terbarunya mencakup “Personal Project” di Dia.lo.gue (2012) dan “Domestic Stuff” di Galeri Salihara (2012).

Leilani Hermiasih Suyenaga (lahir 1990) sarjana Antropologi Budaya dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia juga aktif di skena musik melalui proyek penyanyi-penulis lagu “Frau” dan adalah anggota band surf-rock “The Southern Beach Terror”, dan kelompok gamelan “Sekar Jindra”.

Julia Sarisetiati & Budi Mulia

‘Berbagi Strategi Ketakpastian’

Dalam buku Guy Standing “The Precariat: The New Dangerous Class”, dinyatakan bahwa globalisasi mengakibatkan munculnya kelas sosial baru yang tidak hanya sengsara karena kerawanan lapangan kerja tetapi juga kerawanan identitas dan kurangnya manajemen waktu, belum lagi yang disebabkan kebijakan sosial tenaga kerja. Terinspirasi oleh buku “The Precariat”, Julia Sarisetiati & Budi Mulia memulai penelitiannya dengan mengamati kaum precariat di Indonesia dan kemudian mengajak mereka, tak hanya para precariat tetapi juga semua manusia, untuk mempertanyakan bagaimana cara hidup, menghadapi dan berjuang dengan kerawanan dan ketakpastian dalam hidup sehari-hari.

Mereka menemukan kemiripan pada ketakpastian dan kerawanan kehidupan sehari-hari kita dengan kehidupan penjudi togel, karena realitas para penjudi tersebut dipenuhi ketakpastian dan kerawanan meskipun sifatnya berbeda dan didasarkan pada prediksi dan spekulasi kejadian, dan harapan (untuk mendapatkan nomer pemenang). Proyek ini mengundang 4-5 penjudi untuk berbagi strategi dan metodologi individual serta anekdot pengalaman mereka berjudi. Dipamerkan dalam bentuk instalasi video dan objek, kita dapat menyaksikan para penjudi membeberkan dan membandingkan strategi judi masing-masing, menjelaskan logika dan alasan di balik formula mereka dalam upaya menguasai sistem dan memenangkan judi.

Julia Sarisetiati (lahir 1981) adalah seniman yang bekerja utamanya dengan fotografi dan adalah anggota komite artistik Korps RURU-sebuah agensi komunikasi visual yang didirikan oleh ruangrupa, Forum Lenteng dan Serrum. Ia terlibat dalam tim kuratorial “The Sweet and Sour Story of Sugar”, Galeri Seni Kunstring, Jakarta (2012) yang terselenggara oleh kerjasama ruangrupa & Noorderlicht.

Budi Mulia (lahir 1967) lulus dari Program Studi Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan jurusan Sastra Perancis. Saat ini ia sedang menempuh program studi Master di Universitas Indonesia (UI) jurusan Studi Kesejahteraan Sosial.

Proyek dan Pameran ini dikurasi oleh Adeline Ooi dan Mella Jaarsma.

Dobrak – Cover

Dobrak – Introduction

Dobrak – Nuraini Juliastuti & Ade Darmawan

Dobrak – Aryo Danusiri & Iswanto Hartono

Dobrak – Budi Mulia & Julia Sarisetiati

Dobrak – Pujo Semedi & Leonardiansyah Allenda

Dobrak – Leilani Hermiasih & Restu Ratnaningtyas

Your files have downloaded successfully into the My Downloads folder.

Currently using 36% of your storage space.